Text
Perjalanan Religius 'Umrah dan Haji
"Kita semakin bersyukur menyaksikan kaum Muslim Indonesia yang berziarah ke Tanah Suci dewasa ini semakin meningkat. Peningkatan yang menggembirakan itu tentunya harus diiringi dengan suatu upaya penggalian untuk menangkap makna dan relevansi ziarah tersebut secara lebih substansial. Buku yang ditulis oleh Dr. Nurcholish Madjid ini, adalah sebuah upaya penggalian mencari makna dan relevansi 'Umrah dan Haji secara substansial tersebut.
Bagi Cak Nur, ziarah religius 'Umrah dan Haji itu tidak hanya berupa ritual ibadah yang semata-mata hanya untuk menjalankan perintah dan memperoleh ridha Allah, melainkan lebih dari itu. Yaitu, napak-tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci, Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Isma'il, yang peristiwanya sangat historis, dan karenanya banyak memberi pelajaran bagi kaum yang mengetahui dan memperhatikannya. Karena itu, sangat wajar bila ibadah 'Umrah dan Haji dikategorikan jenis ibadah yang paling sempurna. Sebab, ia tidak hanya bisa dilakukan dengan hati tulus-ikhlas, melainkan dengan menyertakan pula pikiran, kekuatan fisik, dan kekayaan material.
Lebih dari itu, Cak Nur menjelaskan bahwa ziarah 'Umrah dan Haji itu bisa dikatakan mabrur bila orang yang melakukannya, sepulangnya menunjukan komitmen dan solidaritas sosial yang tinggi. Maka Ibadah 'Umrah dan Haji bisa dinilai baik dan mabrur bila secara sosial bermanfaat bagi sesama manusia. Dalam konteks inilah kemudian Cak Nur menjelaskan kenapa Haji dikatakan oleh Rasulullah sebagai (wuquf) di Arafah. Karena Rasulullah pada kesempatan Haji perpisahan (Haji Wada') berpidato di depan para jama'ahnya yang berkumpul di Arafah, yang isi pidatonya, menurut Cak Nur, adalah tentang hak-hak asasi manusia (HAM). Pada kesempatan itulah Rasulullah menegaskan bahwa darah, jiwa, harta dan kekayaan setiap individu, adalah suci. Karena itu, haram bagi orang lain untuk mengganggunya."
No other version available